Selasa, 07 Mei 2019

K E A D I L A N


Seorang pria, kurus tampak bingung di ruang tamu tanpa perabotan. Istrinya terus ngomong, kadang histeris ketika di timpalinya. Anaknya terus merengek dalam pelukan ibunya karena sakit.

Pemilik kontrakan sudah memberi ancaman yang ketiga kali. Tidak bayar sewa, keluar ! Pria itu menatap nanar ke sekelilingnya. Dia kehilangan akal untuk menenangkan istrinya. Kehilangan kekuatan bicara tentang sabar ketika dapur sejak kemarin tidak mengepul.

Anak sakit yang tak bisa dibawa ke rumah sakit, rumah kontrakan yang nunggak tiga bulan.

Pria itu pagi buta ke luar rumah. Dalam perjalanan dia melihat ada sepatu baru digeletakkan di depan rumah orang kaya.

Lihat ke kiri ke kanan, memastikan situasi aman. Dia melompat pagar rumah itu, sepatu itu diambilnya.

Malang tak dapat dielak, aksinya diketahui anjing yang menggonggong keras. Sehingga mengundang orang ramai.

Dia berlari dari kejaran orang ramai. Tertangkap, digebuki dan dibawa ke kantor polisi. Dia di hukum untuk satu kesalahan, mencuri.
Dia menjadi pesakitan karena orang kampung menghukumnya dan akhirnya negara mengadilinya.

Kini tinggalah seorang istri dengan anak yang sedang sakit. Lapar, tanpa uang, lalu pemilik kontrakan mengusirnya.

Tak peduli ke mana dia harus pergi, para tentangga tidak ada waktu memikirkan anak balita yang lapar dan ibu yang kurus tanpa penghasilan. Sementara suami di penjara. Semua punya kesibukan dan punya alasan untuk menjelaskan apa yang terjadi terhadap keluarga kecil itu. Secara moral salah ! Secara agama dianggap tidak beriman.

Benarkah?

Pernahkah kita berpikir sedikit becanda, jangan jangan, si ayah yang mencuri sepatu itu karena disuruh Tuhan untuk mengambil haknya yang selama ini dititipkan kepada orang kaya, karena para tetangga yang mampu membutakan mata dan hati kepada si fakir miskin di sekitarnya, namun ketika dia mengambil haknya, orang ramai justru marah, menghukumnya, dan negara mengadilinya berdasarkan KUHAP.

Orang ramai puas. Tapi tidak bagi Tuhan. Kamu boleh hidup dengan retorika agama dan tauhid. Boleh bicara soal aqidah. Boleh bicara soal moral dan etika. Tapi saat kamu abai kepada kaum miskin kamu tak lebih dari pendusta agama di hadapan Tuhan. Kamu sedang bermain main dengan kekuasaan Tuhan.

Kita hanya melihat apa yg ada di depan kepala kita, kita tidak pernah tahu apa penyebab sebenarnya, bahkan yang ahli ibadah, yang sering berdakwah dapat bayaran, ahli sosial, yg seiman denganmu, yang ulama, semuanya buta !

Tahukah bahwa, Tuhan tidak menilai hubungan hebatmu denganNYA. Karena Dia sudah Maha Hebat dan Kuasa, tanpa berharap disanjung dan disembah berlebihan. Tuhan, dengan kasihNYA akan melimpahkan rahmatNya kepada siapapun yang peduli kepada orang miskin, bukan hanya memberi makan tapi membantunya menuju mata air, untuk minum dan membersihkan diri.

Rahmat Allah itu diraih dengan sifat rahman yang kamu miliki, bukan dengan ber-dzikir siang malam dengan berbusa lidah saja. Pahami itu !

Bahwa tidak dikatakan beriman, bila kamu tidur sementara tetanggamu lapar. Andaikan kamu mati ketika tidur maka kamu mati dalam keadaan tak beriman. Paham !

Mari berubah, beragama dengan mengutamakan akhlak berbagi cinta dan kasih sayang. Selebihnya biarkan kekuasaan Tuhan berkerja, dan itu akan sebaik baiknya keadilan.

🤝🤝

Tidak ada komentar:

Posting Komentar