Sabtu, 07 Desember 2019
Presiden Erdogan Sedang Membaca Al Quran Dalam Rangka Peresmian Masjid Cambridge Di Inggris
https://www.facebook.com/musliminangaji/videos/459593218077254/
TOLERANSI BERAGAMA
Assalamualaikum....met pagiiiii....ijin share ๐๐ป๐ฅฐ
Berhubung waktu Natal atau Tahun Baru Masehi sudah dekat. Tdk ada salahnya mulai kini sudah mengingatkan sesama Muslim
Inilah yang dimaksud, TOLERANSI BERAGAMA.
Indahnya saling mengingatkan.
Menjelang NATAL..
Muslim : "Bagaimana natalmu? "
David :
"Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku.?"
Muslim :
"Tidak, Agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu. Tapi urusan ini, agama saya melarangnya.!"
David :
"Tapi kenapa..? Bukankah hanya sekedar kata2..?
Muslim :
"Benar....
Saya mejadi muslimpun karena hanya sekedar kata2, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Saya halal menggauli istri sayapun, karena hanya sekedar kata2 yaitu akad nikah, dan....
Istri saya yg sa'at ini sedang halal saya gaulipun bisa kembali menjadi haram atau zina jika saya mengucapkan kata talak atau cerai, padahal hanya sekedar kata2.
David :
"Tapi teman2 muslimku yang lain mengucapkannya padaku..?" .
Muslim :
"Ooh...mungkin mereka belum faham dan mengerti.
Ohya, bisakah kau mengucapkan dua kalimat Syahadat David?! "
David :
"Oh tidak, saya tidak bisa... Itu akan mengganggu Keimanan saya..!"
Muslim :
"Kenapa? Bukankah hanya kata2 toleransi saja? Ayo, ucapkanlah..!!"
David :
" Ok ok..sekarang, saya paham dan mengerti.."
Inilah yang menyebabkan BUYA HAMKA, memilih meninggalkan jabatan Dunia, sebagai Ketua MUI. ketika didesak pemerintah untuk mengucapkan ;
"SELAMAT NATAL"
Meskipun anggapan, hanya Berupa kata-kata keakraban.
Atau sekedar toleransi. namun disisi Allah, nilainya justru menunjukkan kerendahan AQIDAH.
Banyak sekali muslim, yang tidak faham, dan tidak mau mengerti akan konsep ilmu Agama, yang disisi lain, mereka faham akan ilmu2 umum. yang sifatnya tiada kekal, tidak ada gunanya, untuk keselamatan AKHIRATnya yang Abadi nanti.
Bila Pesan ini, bisa ditularkan ke yang lain, berarti kita telah berda'wah kepada orang banyak.
Selamatkan Aqidah keluarga kita dan Saudara Muslim lainnya.
"Lakum diinukum, waliyadiin" untukmu agamamu dan untukku agamaku.(QS. Alkafirun)
## ๐๐๐บ๐ธ ##
Berhubung waktu Natal atau Tahun Baru Masehi sudah dekat. Tdk ada salahnya mulai kini sudah mengingatkan sesama Muslim
Inilah yang dimaksud, TOLERANSI BERAGAMA.
Indahnya saling mengingatkan.
Menjelang NATAL..
Muslim : "Bagaimana natalmu? "
David :
"Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku.?"
Muslim :
"Tidak, Agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu. Tapi urusan ini, agama saya melarangnya.!"
David :
"Tapi kenapa..? Bukankah hanya sekedar kata2..?
Muslim :
"Benar....
Saya mejadi muslimpun karena hanya sekedar kata2, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat.
Saya halal menggauli istri sayapun, karena hanya sekedar kata2 yaitu akad nikah, dan....
Istri saya yg sa'at ini sedang halal saya gaulipun bisa kembali menjadi haram atau zina jika saya mengucapkan kata talak atau cerai, padahal hanya sekedar kata2.
David :
"Tapi teman2 muslimku yang lain mengucapkannya padaku..?" .
Muslim :
"Ooh...mungkin mereka belum faham dan mengerti.
Ohya, bisakah kau mengucapkan dua kalimat Syahadat David?! "
David :
"Oh tidak, saya tidak bisa... Itu akan mengganggu Keimanan saya..!"
Muslim :
"Kenapa? Bukankah hanya kata2 toleransi saja? Ayo, ucapkanlah..!!"
David :
" Ok ok..sekarang, saya paham dan mengerti.."
Inilah yang menyebabkan BUYA HAMKA, memilih meninggalkan jabatan Dunia, sebagai Ketua MUI. ketika didesak pemerintah untuk mengucapkan ;
"SELAMAT NATAL"
Meskipun anggapan, hanya Berupa kata-kata keakraban.
Atau sekedar toleransi. namun disisi Allah, nilainya justru menunjukkan kerendahan AQIDAH.
Banyak sekali muslim, yang tidak faham, dan tidak mau mengerti akan konsep ilmu Agama, yang disisi lain, mereka faham akan ilmu2 umum. yang sifatnya tiada kekal, tidak ada gunanya, untuk keselamatan AKHIRATnya yang Abadi nanti.
Bila Pesan ini, bisa ditularkan ke yang lain, berarti kita telah berda'wah kepada orang banyak.
Selamatkan Aqidah keluarga kita dan Saudara Muslim lainnya.
"Lakum diinukum, waliyadiin" untukmu agamamu dan untukku agamaku.(QS. Alkafirun)
## ๐๐๐บ๐ธ ##
KETIKA HARI KIAMAT TIBA
Jum'at
| 09 Rabi'ul Akhir 1441 H
| 06 Desember 2019 M
Kejadian hari kiamat sangat dahsyat dan sangat sulit dibayangkan oleh akal manusia.
Misalnya Allah jadikan anak kecil tiba-tiba menjadi beruban rambutnya karena dahsyatnya hari kiamat.
Allah berfirman,
َََْูููู ุชَุชََُّููู ุฅِْู ََููุฑْุชُู ْ َْููู ًุง َูุฌْุนَُู ุงِْْูููุฏَุงَู ุดِูุจًุง
“Bagaimana mungkin kalian bisa bertaqwa sementara kalian tetap kafir kepada hari kiamat yang menjadikan anak-anak beruban.” (Al-Muzammil: 17)
Demikian juga seorang Ibu yang sangat menyanyangi bayinya.
Ketika terjadi kiamat, sang ibu akan melalaikan (tidak peduli) dengan bayi yang sedang ia susui.
Allah berfirman:
َูุง ุฃََُّููุง ุงَّููุงุณُ ุงุชَُّููุง ุฑَุจَُّูู ْ ۚ ุฅَِّู ุฒَْูุฒََูุฉَ ุงูุณَّุงุนَุฉِ ุดَْูุกٌ ุนَุธِูู ٌ َْููู َ ุชَุฑَََْูููุง ุชَุฐَُْูู ُُّูู ู ُุฑْุถِุนَุฉٍ ุนَู َّุง ุฃَุฑْุถَุนَุชْ َูุชَุถَุนُ ُُّูู ุฐَุงุชِ ุญَู ٍْู ุญَู ََْููุง َูุชَุฑَู ุงَّููุงุณَ ุณَُูุงุฑَٰู َูู َุง ُูู ْ ุจِุณَُูุงุฑَٰู َََِّٰูููู ุนَุฐَุงุจَ ุงَِّููู ุดَุฏِูุฏٌ
“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu. Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah), pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai terhadap anak yang disusuinya, dan semua wanita yang hamil gugur kandungan. Kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.” (QS.al-Hajj:1-2)
Salah satu yang menunjukkan dahsyatnya hari kiamat adalah
seseorang yang lari dari ayah dan ibunya, lari dari anak-istrinya dan lari dari saudaranya di hari kiamat.
Padahal secara logika dan tabiat manusia, mereka akan sangat senang berjumpa dengan keluarga mereka setelah lama tidak berjumpa karena dipisahkan oleh kematian.
Ternyata sebab mereka lari dan menghindar
adalah karena mereka takut
dituntut
oleh anak-istri, ayah dan ibu dan keluarganya. Dituntut kenapa dahulu di dunia ia tidak menunaikan kewajiban sebagai ayah dan suami,
- salah satunya harus mendidik agama bagi keluarganya. Ia juga harus fokus dengan urusan diri sendiri di hari kiamat.
Allah berfirman,
َْููู َ َِููุฑُّ ุงْูู َุฑْุกُ ู ِْู ุฃَุฎِِูู َูุฃُู ِِّู َูุฃَุจِِูู َูุตَุงุญِุจَุชِِู َูุจَِِููู ُِِّููู ุงู ْุฑِุฆٍ ู ُِْููู ْ َْููู َุฆِุฐٍ ุดَุฃٌْู ُูุบِِْููู
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (QS. ‘Abasa: 34-37)
Tafsir AL-Qurthubi menjelaskan,
ุฃู ุชุฌูุก ุงูุตุงุฎุฉ ูู ูุฐุง ุงูููู ุงูุฐู ููุฑุจ ููู ู ู ุฃุฎูู ; ุฃู ู ู ู ูุงูุงุฉ ุฃุฎูู ูู ูุงูู ุชู ; ูุฃูู ูุง ูุชูุฑุบ ูุฐูู ، ูุงุดุชุบุงูู ุจููุณู
“Yaitu ketika datangnya hari kiamat ia akan lari dari saudaranya yaitu lari dari berdekatan dan berbicara dengan saudaranya (keluarga). Ia tidak fokus (terlalu peduli) dengan hal tersebut karena sibuk dengan urusan dirinya.” [Tafsir Al-Qurtubi]
Hal ini tidak mengherankan,
karena pada hari kiamat dua orang sahabat yang sangat akrab di dunia, kelak di akhirat bisa jadi bermusuhan karena persahabatan mereka tidak dibangun di atas takwa kepada Allah.
Misalnya ketika tiba waktu shalat,
- tidak ada satu pun di antara mereka yang mengingatkan agar shalat
- mereka terus bermain-main dan beraktivitas.
Kelak, mereka akan saling menyalahkan dan saling bermusuhan di hari kiamat.
Allah berfirman,
ุงْูุฃَุฎَِّูุงุกُ َْููู َุฆِุฐٍ ุจَุนْุถُُูู ْ ِูุจَุนْุถٍ ุนَุฏٌُّู ุฅَِّูุง ุงْูู ُุชََِّููู
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa” (Az Zukhruf: 67)
Syaikh Abdurrahman As- Sa’diy menafsirkan,
ูุฃู ุฎูุชูู ูู ุญุจุชูู ูู ุงูุฏููุง ูุบูุฑ ุงّููู، ูุงูููุจุช ููู ุงูููุงู ุฉ ุนุฏุงูุฉ
“Karena persahabatan dan kecintaan mereka di dunia bukan karena Allah, maka berubah menjadi permusuhan di hari kiamat.” [TafsirAs-Sa’diy]
๐ Sumber : Muslim.or.id
๐Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
〰〰〰
_____✒
Dishare oleh: Mutiara Risalah Islam
Pembina Ust Dr. Musyaffa' ad Dariny Lc, M.A. ุญูุธู ุงููู ุชุนุงูู
KUMPULAN VIDEO EDUKASI DOKTER SPESIALIS CHANNEL YOUTUBE RUANG DOKTER
Kampus Sehat Keluarga Indonesia
https://www.facebook.com/andipratama.dharma/posts/2383308891920547
Bila dirasakan bermanfaat, mohon dishare ke pasien/keluarganya yah. Semoga bisa jadi amal jariyah bagi kita semua.
[12/6, 8:20 AM] Andi Pratama dr SpPD: SPESIALIS PENYAKIT DALAM
PENYAKIT REMATIK (BAGIAN KE-1)
https://youtu.be/XtQQR2omtMM
PENYAKIT REMATIK (BAGIAN KE-2)
https://youtu.be/5YtX1mmXZE4
GANGGUAN IRAMA JANTUNG (ARITMIA)
https://youtu.be/JN07Jfthf2Q
MENGENAL KANKER (BAGIAN KE-1)
https://youtu.be/qDsmnMlW37o
MENGENAL KANKER (BAGIAN KE-2)
https://youtu.be/biof9yYGQU8
MENGENAL TUBERKULOSIS (TBC)
https://youtu.be/xj7Jr-tcltQ
MENGENAL PENYAKIT ASMA
https://youtu.be/K-VJAJ75Fd0
MENGENAL PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK)
https://youtu.be/gdWPmY0LmBI
MENGENAL ENAM PENYAKIT "SILENT KILLER" (DIAM-DIAM MEMATIKAN)
https://youtu.be/BuXVW7fODpU
APA ITU DIABETES? MENGENAL DIABETES & KOMPLIKASINYA
https://youtu.be/Oq5X37gjZvA
MITOS SEPUTAR DIABETES: MAKAN KENTANG, NASI BEKAS, & BANYAK PANTANGAN MAKANAN
https://youtu.be/t0XwE0HPTJU
MITOS SEPUTAR HIPERTENSI (TEKANAN DARAH TINGGI)
https://youtu.be/QiYWFzf_yGM
HIPERTENSI FROM A-TO-Z (INFORMASI AWAL MENDASAR YANG WAJIB DIKETAHUI SETIAP PASIEN)
ttps://youtu.be/WK4vB8VS8Zc
MITOS DAN HOAKS SEPUTAR KOLESTEROL DAN HIPERTENSI
https://youtu.be/1LoSMlZSnmk
KOLESTEROL & PEGAL-PEGAL DI LEHER: MITOS ATAU FAKTA?
https://youtu.be/mGBJmEcoICU
BAHAYA OBESITAS & HUBUNGANNYA DENGAN BERBAGAI PENYAKIT BERAT
https://youtu.be/GrxTcxN-J60
BAHAYA OBESITAS DALAM ANGKA
https://youtu.be/ChDVljM2CqQ
MENGENAL BERBAGAI GANGGUAN FUNGSI HATI
https://youtu.be/V9B3a-OroE0
TUJUH MITOS SEPUTAR DEMAM TIFOID (TIFUS/TIPES)
https://youtu.be/g8NVj_wyXSE
TIGA MITOS SEPUTAR MAKANAN & SAKIT MAAG
https://youtu.be/3NtRyNSg1T0
APA ITU SAKIT MAAG? BISAKAH DISEMBUHKAN? (1/2)
https://youtu.be/AYPDZ-0XbzA
APA ITU SAKIT MAAG? BISAKAH DISEMBUHKAN? (2/2)
https://youtu.be/OE8gdHMkH6k
MITOS ASAM URAT: PENYEBAB REMATIK, SELALU TIMBUL KELUHAN, & PANTANG SAYURAN HIJAU
https://youtu.be/ccFE2h1K2tE
KONSEP BARU MEDICAL CHECK-UP (MCU) PERUSAHAAN
https://youtu.be/wl27qW0SeuQ
MENGAPA KITA JATUH SAKIT? DEHIDRASI, TUBUH YANG ASAM, & RADIKAL BEBAS
https://youtu.be/gbjyBHq21YA
--------------------------------
SPESIALIS KEBIDANAN & KANDUNGAN
INKONTINENSIA URINE (MENGOMPOL)
https://youtu.be/qPb8bZE29Pw
BAHAYA KANKER SERVIKS
https://youtu.be/MWw3bong554
KERACUNAN KEHAMILAN (PRE-EKLAMSIA)
https://youtu.be/xxdpJLbFNfM
LEBIH MENGENAL METODE KONTRASEPSI
https://youtu.be/QHYG2lkB7mM
PENTINGNYA ASAM FOLAT PADA KEHAMILAN
https://youtu.be/I5ImWoDYmjM
--------------------------------
SPESIALIS ANAK
MEMAHAMI PENTINGNYA IMUNISASI BAGI MANUSIA (BAGIAN KE-1)
https://youtu.be/NAgwZExhS2g
MEMAHAMI PENTINGNYA IMUNISASI BAGI MANUSIA (BAGIAN KE-2)
https://youtu.be/F0oSbEuhazs
KEJANG DEMAM
https://youtu.be/enxi3NWyBlc
PNEUMONIA, PENYAKIT ANAK YANG MEMATIKAN
https://youtu.be/j33tT5mpQ5I
--------------------------------
SPESIALIS SARAF
MENGENAL LEBIH DALAM TENTANG KELUHAN SAKIT KEPALA
https://youtu.be/zxW75CxyY4Y
PENYAKIT SARAF VS PENYAKIT SARAP
--------------------------------
SPESIALIS MATA
DIABETIK RETINOPATI: KOMPLIKASI DIABETES PENYEBAB KEBUTAAN
https://youtu.be/eswRHMSK--o
GLAUKOMA: SALAH SATU PENYEBAB KEBUTAAN
https://youtu.be/4xRhAdG0-OI
--------------------------------
SPESIALIS UROLOGI
KENCING BERDARAH (HEMATURIA)
https://youtu.be/3jXnn44KtqA
PEMBESARAN PROSTAT JINAK
https://youtu.be/cqdkJOY_-4Q
KHITAN (PROSEDUR, PERSIAPAN, & PASCA TINDAKAN)
https://youtu.be/5xF36kHAeZE
Sabtu, 05 Oktober 2019
MAKAN BUAH SAAT PERUT KOSONG
Dokter STEPHEN MAK merawat pasien kanker stadium akhir dengan cara unik. Banyak pasiennya sembuh. "Ini merupakan strategi saya untuk menyembuhkan kanker. Tingkat keberhasilannya 80 persen," tegas Mak.
Pasien kanker seharusnya tidak mati. Terapi anti kanker sudah ditemukan yakni makanlah buah-buahan saat perut kosong atau sangat lapar. "Saya mohon maaf kepada ratusan pasien kanker yang telah meninggal akibat pengobatan konvensional," pungkasnya.
TIPS MAKAN BUAH yang TEPAT
Hindarilah makan buah setelah makan nasi dan lauk. Cara ini sangat dilarang atau 'haram,' jikalau Anda ingin bebas dari serangan kanker dan penyakit mematikan lainnya.
Jika Anda makan buah saat perut kosong, maka detoksifikasi sistem tubuh Anda meningkat berkali-kali lipat. Problem kelebihan berat badan dan penyakit mematikan lainnya teratasi.
DAHSYATnya BUAH-BUAHAN
Jika Anda makan nasi, lalu menyusul buah, maka buah dicegah oleh nasi sebelum menuju usus. Nasi dan buah membusuk, berfermentasi, dan berubah menjadi asam. Tubuh yang sangat asam penyebab kanker dan penyakit mematikan lainnya.
Saat buah bersentuhan dengan nasi di usus, maka seluruh massa nasi perlahan rusak. Jadi, silakan makan buah saat perut kosong atau sebelum makan nasi dan lauk.
EFEK SALAH MAKAN BUAH
Mungkin Anda pernah mendengar keluhan yakni setiap kali makan semangka, ada orang menderita sendawa, ketika makan durian perutnya kembung, ketika makan pisang rasanya segera ke toilet, dan lainnya. Kondisi ini tidak bakal terjadi, jikalau Anda makan buah apa saja saat perut kosong. Karena buah-buahnya bercampur dengan pembusukan makanan lain, sehingga menghasilkan gas dalam usus.
Rambut uban, rambut rontok, botak, gugup, dan lingkaran hitam di bawah mata tidak akan terjadi, jikalau Anda makan buah saat perut kosong.
"Jeruk dan lemon bersifat asam, tetapi menjadi alkalin (basa) di dalam tubuh, jikalau dimakan saat perut kosong," ulas dokter HERBERT SHELTON yang melakukan riset khusus tentang asam basa tubuh.
BUAH UMUR PANJANG dan SEHAT
Jika Anda menguasai cara makan buah yang benar, maka Anda memiliki rahasia keindahan tubuh, umur panjang, kesehatan, vitalitas, kebahagiaan, dan berat badan ideal.
BAHAYA BUAH yang DIPANASKAN atau DIMASAK
Saat Anda minum jus buah, minumlah jus buah segar, bukan dari kemasan kaleng, bungkusan, atau botol.
Jangan minum jus yang dipanaskan. Jangan makan buah yang dimasak, karena semua nutrisi sudah hilang. Anda hanya mendapatkan rasanya saja. Memasak buah-buahan akan menghancurkan semua vitamin yang ada dalam buah. Makan buah utuh lebih baik dari pada minum jus.
Jika pun Anda minum jus buah segar, minumlah dengan perlahan, karena Anda harus membiarkannya bercampur dengan air liur (ensim di mulut) sebelum menelannya.
TERAPI BUAH TIGA HARI BERTURUT-TURUT tanpa NASI dan LAUK
Silahkan Anda coba mengkonsumsi buah selama 3 hari berturut-turut untuk membersihkan semua racun (detoksifikasi) di tubuhnya---hanya makan buah dan minum jus buah segar selama 3 hari berturut-turut tanpa makan nasi dan lauk. Teman-teman Anda akan melihat Anda lebih segar, cantik, dan enerjik.
BAHAYA MINUM AIR DINGIN setelah MAKAN: PEMICU KANKER
Jika Anda sering minum air dingin (air es) setelah makan, maka tamatlah hidup Anda. Karena semua jenis kanker siap menghancurkan tubuh Anda.
Minum air es setelah makan sangatlah nikmat, tetapi sangatlah membawa sengsara. Air es mengentalkan semua makanan berminyak yang baru saja Anda makan. Akibatnya proses pencernaan menjadi sangat lambat. Usus akan sangat cepat rusak, karena memaksa kerjanya.
Lebih dari itu, makanan berlemak dan telah membeku akan melapisi dinding usus Anda, sehingga perlahan memicu kanker usus.
Tentu saja Anda akan semakin gemuk dan sekaligus perlahan menginap kanker ganas. Karena itu, minumlah sup hangat atau air hangat setelah makan.
Semakin Anda tahu, semakin besar peluang Anda untuk bertahan hidup, sehat, dan umur panjang tanpa biaya mahal.
VIRALKAN informasi di atas terutama kepada KELUARGA dan rekan-rekan Anda.
BAHAGIA_SUKSES
"SAVE Health, SAVE Future."
Surabaya, 18 Agustus 2019
Editor | Dr. Harsono Njoto
BISMILLAH...
Sekedar berbagi ilmu, inilah potongan kanker setelah dikeluarkan dari tubuh pasien. ternyata kanker itu makhluk hidup, didekatkan bawang putih dia menjauh, tapi dikasih emas dia malah mendekat. Pantas kalo di dalam tubuh dia beranak dan memakan darah dan daging...
Mari kita jaga kesehatan, itulah sebabnya mengapa Rosululloh SAW melarang kaum pria memakai emas, karena partikel emas itu akan mengendap dalam darah, sedangkan bagi kaum wanita itu akan keluar bersama darah kotor ketika haid.
SUBHANALLOH...,14 abad silam ternyata sudah diajarkan oleh Rosululloh, baru sekarang ter ungkap rahasianya.
Semoga bermanfaat.☝๐ป☝๐ป☝๐ป
Salaaam...
Al faqir.๐๐๐
Sekedar berbagi ilmu, inilah potongan kanker setelah dikeluarkan dari tubuh pasien. ternyata kanker itu makhluk hidup, didekatkan bawang putih dia menjauh, tapi dikasih emas dia malah mendekat. Pantas kalo di dalam tubuh dia beranak dan memakan darah dan daging...
Mari kita jaga kesehatan, itulah sebabnya mengapa Rosululloh SAW melarang kaum pria memakai emas, karena partikel emas itu akan mengendap dalam darah, sedangkan bagi kaum wanita itu akan keluar bersama darah kotor ketika haid.
SUBHANALLOH...,14 abad silam ternyata sudah diajarkan oleh Rosululloh, baru sekarang ter ungkap rahasianya.
Semoga bermanfaat.☝๐ป☝๐ป☝๐ป
Salaaam...
Al faqir.๐๐๐
Selasa, 25 Juni 2019
DOKTER ITU...
Seorang dokter berlari terburu-buru memasuki
rumah sakit karena ada panggilan operasi darurat.
Dia menjawab panggilan itu secepatnya,
mengganti dgn baju operasi dan langsung menuju ruang operasi.
Dia bertemu dgn ayah sang anak yg mondar mandir
sepanjang lorong menunggu dokter datang.
Ketika melihat dokter itu, si ayah berteriak:
"kenapa lama sekali datangnya? Apa anda
tdk tau kalau nyawa anak saya dlm bahaya? Apa anda tdk punya rasa
tanggungjawab?"
Dokter itu tersenyum dan menjawab:
"Maafkan saya, tadi saya tidak di rumah
sakit dan saya datang secepatnya setelah menerima panggilan, dan sekarang saya
mohon bapak tenang dulu jadi saya bisa melakukan tugas saya"
"Tenang? Bagaimana jika anak anda yg di
dalam sana saat ini, apa anda bisa tenang?
Jika anak anda meninggal sekarang, apa yg akan
anda lakukan?" Jawab si ayah sambil menahan amarah.
Dokter itu tersenyum kembali dan menjawab:
"Dokter tidak bisa memanjangkan umur
manusia. Kami akan mengusahakan yg terbaik dan tetap berharap bantuan Tuhan"
"Ngomong memang gampang kalau tidak
perduli" gumam si ayah.
Operasi berlangsung beberapa jam dan dokter
itu keluar dgn gembira,
"Syukur pada Tuhan, anak anda
selamat"
Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah, dia
terus saja berjalan " kalau ada yg mau ditanyakan, tanyalah pada
suster"
"kenapa dia sombong sekali?" Bahkan
dia tidak bisa menunggu sebentar jadi saya bisa menanyakan ttg keadaan anak
saya" komentar si ayah pada seorang suster
Suster itu menjawab sambil menangis, tetes air
mata membasahi wajahnya:
"Anaknya meninggal kemarin karena
kecelakaan, beliau sedang di pemakaman ketika kami memanggilnya utk mengoperasi
anak bapak. Dan sekarang setelah menyelamatkan anak bapak, beliau harus buru
buru kembali ke pemakaman anaknya".
==========Moral===========
Jangan suka cepat menghakimi orang lain..
Karena kita tak pernah tau
sesungguhnya tentang hidup orang lain, apa yg sedang mereka alami dlm
perjalanan hidup mereka..
Minggu, 19 Mei 2019
PERCAKAPAN NABI MUHAMMAD DENGAN IBLIS
Baca dulu jangan keburu di close tdak sampai 5 menit...
Dialog Antara Rasulullah dan Iblis
Rasulullah bertanya :
Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku hendak Sholat ?
Iblis menjawab:
Aku merasa Panas dingin dan gementar.
Rasulullah, Kenapa ???
Iblis, Sebab setiap manusia berSujud 1X kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 Derajat buatnya.
Rasulullah, Jika seorang umatku berpuasa ?.
Iblis, Tubuhku terasa terikat hingga dia berbuka.
Rasulullah, Jika ia menunaikan Ibadah haji ?.
Iblis, Aku seperti orang Gila.
Rasulullah, Jika ia membaca Al-Qur'an ?.
Iblis, Aku merasa meleleh laksana air timah di atas Api.
Rasulullah, Jika ia bersedekah ?.
Iblis, Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.
Rasulullah, Mengapa bisa begitu ?.
Iblis, Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya, yaitu :
1. Keberkahan dalam hartanya,
2. Hidupnya penuh dengan keberkahan dan dimuliakan Allah,
3. Sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka,
4. Terhindar dari segala macam musibah akan terjauh darinya.
Rasulullah, Apa yang dapat mematahkan pinggangmu ?
Iblis, Suara unta, perang di jalan Allah, yang membela Agama Allah.
Rasulullah, Apa yang dapat melelehkan tubuhmu ?.
Iblis, orang yang bertaubat, setiap saat (Taubatan Nasuha).
Rasulullah, Apa yang dapat membakar hatimu?.
Iblis, Istighfar di waktu siang dan malam.
Rasulullah, Apa yang dapat mencoreng wajahmu ?.
Iblis, Sedekah yang diam-diam.
Rasulullah, Apa yang dapat menusuk matamu ?.
Iblis, Shalat fajar.
Rasulullah, Apa yang dapat memukul kepalamu ?.
Iblis, Shalat berjamaah dimasjid.
Rasulullah, Apa yang paling mengganggumu ?.
Iblis, Para ulama, pemuka-pemuka agama.
Rasulullah, Bagaimana cara makanmu ?.
Iblis, Dengan Tangan kiri dan jariku.
Rasulullah, Dimanakah kau menaungi anak-anakmu di musim panas ?.
Iblis, Dibawah kuku Manusia, yang kotor dan yang sengaja di panjangkan.
Rasulullah, Siapa temanmu wahai iblis ?.
Iblis, Pezina, penipu, pembohong, dlln.
Rasulullah, Siapa teman tidurmu ?.
Iblis, Pemabuk.
Rasulullah, Siapa tamumu ?.
Iblis, Pencuri.
Rasulullah, Siapa utusanmu ?.
Iblis, Tukang Sihir (Dukun).
Rasulullah, Apa yang membuatmu Gembira ?.
Iblis, Orang yang bertengkar dan bersumpah untuk cerai.
Rasulullah, Siapa Manusia yang paling membahagiakanmu ?.
Iblis, Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja.
Rasulullah Shalallahu'Alaihi Wa sallam bersabda:
Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala. (HR. Al-Bukhari).
Dialog Antara Rasulullah dan Iblis
Rasulullah bertanya :
Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku hendak Sholat ?
Iblis menjawab:
Aku merasa Panas dingin dan gementar.
Rasulullah, Kenapa ???
Iblis, Sebab setiap manusia berSujud 1X kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 Derajat buatnya.
Rasulullah, Jika seorang umatku berpuasa ?.
Iblis, Tubuhku terasa terikat hingga dia berbuka.
Rasulullah, Jika ia menunaikan Ibadah haji ?.
Iblis, Aku seperti orang Gila.
Rasulullah, Jika ia membaca Al-Qur'an ?.
Iblis, Aku merasa meleleh laksana air timah di atas Api.
Rasulullah, Jika ia bersedekah ?.
Iblis, Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.
Rasulullah, Mengapa bisa begitu ?.
Iblis, Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya, yaitu :
1. Keberkahan dalam hartanya,
2. Hidupnya penuh dengan keberkahan dan dimuliakan Allah,
3. Sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka,
4. Terhindar dari segala macam musibah akan terjauh darinya.
Rasulullah, Apa yang dapat mematahkan pinggangmu ?
Iblis, Suara unta, perang di jalan Allah, yang membela Agama Allah.
Rasulullah, Apa yang dapat melelehkan tubuhmu ?.
Iblis, orang yang bertaubat, setiap saat (Taubatan Nasuha).
Rasulullah, Apa yang dapat membakar hatimu?.
Iblis, Istighfar di waktu siang dan malam.
Rasulullah, Apa yang dapat mencoreng wajahmu ?.
Iblis, Sedekah yang diam-diam.
Rasulullah, Apa yang dapat menusuk matamu ?.
Iblis, Shalat fajar.
Rasulullah, Apa yang dapat memukul kepalamu ?.
Iblis, Shalat berjamaah dimasjid.
Rasulullah, Apa yang paling mengganggumu ?.
Iblis, Para ulama, pemuka-pemuka agama.
Rasulullah, Bagaimana cara makanmu ?.
Iblis, Dengan Tangan kiri dan jariku.
Rasulullah, Dimanakah kau menaungi anak-anakmu di musim panas ?.
Iblis, Dibawah kuku Manusia, yang kotor dan yang sengaja di panjangkan.
Rasulullah, Siapa temanmu wahai iblis ?.
Iblis, Pezina, penipu, pembohong, dlln.
Rasulullah, Siapa teman tidurmu ?.
Iblis, Pemabuk.
Rasulullah, Siapa tamumu ?.
Iblis, Pencuri.
Rasulullah, Siapa utusanmu ?.
Iblis, Tukang Sihir (Dukun).
Rasulullah, Apa yang membuatmu Gembira ?.
Iblis, Orang yang bertengkar dan bersumpah untuk cerai.
Rasulullah, Siapa Manusia yang paling membahagiakanmu ?.
Iblis, Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja.
Rasulullah Shalallahu'Alaihi Wa sallam bersabda:
Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala. (HR. Al-Bukhari).
Cerita teman saya yg perempuan
Kamis lalu saya general check up tahunan seperti biasa saya lakukan setelah ulang tahun. Salah satunya tes Vit D.
Hasil tes secara umum, untuk seumur saya ini, bagus.
Tapi saya defisiensi vit D. Angka saya 9.9 dari seharusnya 30-100. Saya bawa hasil tersebut ke dokter spesialis di Bandung.
Saya terkejut dg fakta yg dibeberkan dokter tsb. Perempuan Indonesia rata2 defisiensi vit D. Angkanya 3-6. Jadi angka saya lebih baik dari rata2 walaupun tetap defisiensi.
Nah, defisiensi ini juga dialami perempuan Mesir, Arab, Qatar dsb. Kenapa? Karena dg matahari berlimpah, kita justru cenderung menghindarinya. Kita takut berjemur. Takut hitam kena matahari. Sementara di Eropa, karena matahari ini barang mewah, malah ditunggu2. Berjemur menjadi kebiasaan. Saat musim dingin, mereka konsumsi vit D.
Jadi, perempuan Indonesia itu ibarat tikus mati di lumbung padi. Matahari berlimpah, tapi ga mau kena matahari. Takut fleks dsb. Padahal kekurangan vit D berdampak pada keropos tulang, lupus, kanker, lemas lesu, dan penyakit2 lainnya.
Apakah bs dibantu pakai makanan? Makanan mengandung vit D seperti salmon, susu dsb hanya bisa distimulus di tubuh kita kalau tubuh kita dipaparkan pd matahari. Kalau hanya meningkatkan konsumsinya, bahkan dengan vitamin D dosis tinggi, ga akan efektif tanpa matahari.
Jadi saya sekarang minum Vit D 5000iu setiap hari ditambah dengan berjemur 10 menit di bawah matahari .
Ayo ibu2 jelita dan lolita hangatkan diri setiap pagi dg vit D gratis dari Tuhan yaitu sinar matahari yg berlimpah di bumi Indonesia.
Jangan sampai belum usia menginjak 70th, kita sudah bertongkat sementara teman2 perempuan di Eropa masih bisa jalan2 ke mana2...
Vitamin D akan menjaga kesehatan tulang, sistem imun kita dari tidak mudah batuk pilek hingga terhindar dari penyakit autoimmune, diabetes, obesitas, kanker dan bahkan kepikunan.
Demikian.
Sekedar berbagi dan semoga bermanfaat.
Selamat menikmati sinar matahari
Salam Sehat,
Dr. Susi Herawaty
Hasil tes secara umum, untuk seumur saya ini, bagus.
Tapi saya defisiensi vit D. Angka saya 9.9 dari seharusnya 30-100. Saya bawa hasil tersebut ke dokter spesialis di Bandung.
Saya terkejut dg fakta yg dibeberkan dokter tsb. Perempuan Indonesia rata2 defisiensi vit D. Angkanya 3-6. Jadi angka saya lebih baik dari rata2 walaupun tetap defisiensi.
Nah, defisiensi ini juga dialami perempuan Mesir, Arab, Qatar dsb. Kenapa? Karena dg matahari berlimpah, kita justru cenderung menghindarinya. Kita takut berjemur. Takut hitam kena matahari. Sementara di Eropa, karena matahari ini barang mewah, malah ditunggu2. Berjemur menjadi kebiasaan. Saat musim dingin, mereka konsumsi vit D.
Jadi, perempuan Indonesia itu ibarat tikus mati di lumbung padi. Matahari berlimpah, tapi ga mau kena matahari. Takut fleks dsb. Padahal kekurangan vit D berdampak pada keropos tulang, lupus, kanker, lemas lesu, dan penyakit2 lainnya.
Apakah bs dibantu pakai makanan? Makanan mengandung vit D seperti salmon, susu dsb hanya bisa distimulus di tubuh kita kalau tubuh kita dipaparkan pd matahari. Kalau hanya meningkatkan konsumsinya, bahkan dengan vitamin D dosis tinggi, ga akan efektif tanpa matahari.
Jadi saya sekarang minum Vit D 5000iu setiap hari ditambah dengan berjemur 10 menit di bawah matahari .
Ayo ibu2 jelita dan lolita hangatkan diri setiap pagi dg vit D gratis dari Tuhan yaitu sinar matahari yg berlimpah di bumi Indonesia.
Jangan sampai belum usia menginjak 70th, kita sudah bertongkat sementara teman2 perempuan di Eropa masih bisa jalan2 ke mana2...
Vitamin D akan menjaga kesehatan tulang, sistem imun kita dari tidak mudah batuk pilek hingga terhindar dari penyakit autoimmune, diabetes, obesitas, kanker dan bahkan kepikunan.
Demikian.
Sekedar berbagi dan semoga bermanfaat.
Selamat menikmati sinar matahari
Salam Sehat,
Dr. Susi Herawaty
SEDAMAI DI SINI @salimafillah
Pernahkah ada yang menghitung; kiranya ada berapa perbedaan fiqih yang terjadi di Masjidil Haram ini? Tentang melafal niat, tentang sedekap, tentang iftitah, tentang letak tangan saat i'tidal, tentang telapak atau lutut dulu yang turun sujud, tentang letak kaki saat duduk, hingga tentang berapa kali salam yang termasuk rukun?
Dan dapatkah kita pulang ke tanah air dengan tetap selapang dada ketika di sini?
Bukankah sesuatu yang ikhtilaf, apalagi jika bertolak belakang, meniscayakan yang satu benar sedangkan yang lain keliru? Dalam soal pokok-pokok agama dan dasar-dasar ‘aqidah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikianlah adanya. Tetapi dalam perkara furu’iyah fiqhiyah, para ‘ulama memiliki penjelasan. Berikut ini sebuah contoh yang sering dikutip.
Adalah Nabi ๏ทบ bersabda kepada rombongan pasukan yang akan berangkat ke Benteng Bani Quraizhah setelah perang Ahzab, “Jangan kalian shalat ‘Ashr kecuali di Bani Quraizhah!” Kemudian sariyah inipun bergerak menuju perkampungan Yahudi di bagian atas Kota Madinah itu.
Ternyata, sebelum barisan ini sampai ke Bani Quraizhah, waktu ‘Ashr telah hampir habis. Maka merekapun terbelah dalam silang pendapat. Sebagian sahabat memutuskan berhenti untuk shalat ‘Ashr. Sebagian yang lain jalan terus.
Yang berhenti beranggapan bahwa sabda Nabi, “Jangan shalat ‘Ashr kecuali di Bani Quraizhah” mengandung makna kiasan bahwa mereka harus segera berangkat dan bergegas dalam berjalan agar cepat sampai ke tujuan. Makna itu tak menghapus ketentuan bahwa shalat ‘Ashr harus ditunaikan pada waktunya.
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS An Nisaa’ [4]: 103)
Bagi para sahabat yang berhenti, adalah tidak mungkin melanggar batas waktu ‘Ashr dengan menunaikannya nanti. Mereka telah memperhitungkan, secepat apapun mereka gesakan, Benteng Bani Quraizhah baru akan mereka capai jauh setelah mentari terbenam. Andai menjama’ shalat ‘Ashr dengan Maghrib ada dalilnya, tentu mereka akan maju terus. Tapi tidak. Mereka memutuskan harus shalat sekarang.
Adapun para sahabat yang terus berjalan berpendapat bahwa sabda Rasulullah ๏ทบ itu mutlak sebagai perintah seorang panglima. Mereka tidak boleh shalat ‘Ashr kecuali di Bani Quraizhah. Dalam perintah tersebut, yang ditentukan dan ditetapkan oleh Sang Nabi adalah tempatnya, bukan waktunya. Bagi mereka, menyelisihi perintah Rasulullah ๏ทบ adalah kedurhakaan dan pelanggaran berat. Maka merekapun jalan terus meski belum shalat ‘Ashr dan waktunya sudah habis.
Mari perhatikan bahwa bagi mereka yang berhenti, anggota pasukan yang berjalan terus itu berdosa karena tidak shalat ‘Ashr pada waktunya. Pun sebaliknya, bagi yang melanjutkan perjalanan, para prajurit yang berhenti itu berdosa karena menyelisihi perintah Rasulullah ๏ทบ dengan shalat tidak di tempat yang telah beliau tentukan. Betapa rumit kedua fahaman.
Tapi apa yang terjadi ketika seusai tuntasnya tugas mereka menghadap Rasulullah ๏ทบ dan saling melaporkan? Nabi tak menyalahkan siapapun. Sama sekali.
Perbedaan hatta dalam hal sedahsyat ini tak terletak pada ranah "haq" dan "bathil". Yang dibicarakan adalah mana yang "tepat" dan mana yang "lebih tepat menurut kami".
Sebagai penutup, kata sahibul hikayat, satu saat ada jama'ah haji Indonesia bernama Pak Jumadi sedang melaksanakan shalat sunnah. Jama'ah dari Pakistan yang ada di sampingnya memperhatikan dengan sangat serius. Dilihatnya ada beberapa perbedaan tatacara dibanding Madzhab Hanafi yang dianutnya.
Maka seusai shalat dia bertanya, "Enta Syafi'i?"
Jama'ah Indonesia kita menjawab dengan sangat mantap sambil menjabat tangannya dengan erat, "Laa. Ana Jumadi."
Dan sang Pakistani pergi sambil berdecak-decak dan menggelengkan kepala. Mungkin dia pikir, "Madzhab macam mana pula lagi itu Jumadi?"๐
Dan dapatkah kita pulang ke tanah air dengan tetap selapang dada ketika di sini?
Bukankah sesuatu yang ikhtilaf, apalagi jika bertolak belakang, meniscayakan yang satu benar sedangkan yang lain keliru? Dalam soal pokok-pokok agama dan dasar-dasar ‘aqidah yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikianlah adanya. Tetapi dalam perkara furu’iyah fiqhiyah, para ‘ulama memiliki penjelasan. Berikut ini sebuah contoh yang sering dikutip.
Adalah Nabi ๏ทบ bersabda kepada rombongan pasukan yang akan berangkat ke Benteng Bani Quraizhah setelah perang Ahzab, “Jangan kalian shalat ‘Ashr kecuali di Bani Quraizhah!” Kemudian sariyah inipun bergerak menuju perkampungan Yahudi di bagian atas Kota Madinah itu.
Ternyata, sebelum barisan ini sampai ke Bani Quraizhah, waktu ‘Ashr telah hampir habis. Maka merekapun terbelah dalam silang pendapat. Sebagian sahabat memutuskan berhenti untuk shalat ‘Ashr. Sebagian yang lain jalan terus.
Yang berhenti beranggapan bahwa sabda Nabi, “Jangan shalat ‘Ashr kecuali di Bani Quraizhah” mengandung makna kiasan bahwa mereka harus segera berangkat dan bergegas dalam berjalan agar cepat sampai ke tujuan. Makna itu tak menghapus ketentuan bahwa shalat ‘Ashr harus ditunaikan pada waktunya.
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS An Nisaa’ [4]: 103)
Bagi para sahabat yang berhenti, adalah tidak mungkin melanggar batas waktu ‘Ashr dengan menunaikannya nanti. Mereka telah memperhitungkan, secepat apapun mereka gesakan, Benteng Bani Quraizhah baru akan mereka capai jauh setelah mentari terbenam. Andai menjama’ shalat ‘Ashr dengan Maghrib ada dalilnya, tentu mereka akan maju terus. Tapi tidak. Mereka memutuskan harus shalat sekarang.
Adapun para sahabat yang terus berjalan berpendapat bahwa sabda Rasulullah ๏ทบ itu mutlak sebagai perintah seorang panglima. Mereka tidak boleh shalat ‘Ashr kecuali di Bani Quraizhah. Dalam perintah tersebut, yang ditentukan dan ditetapkan oleh Sang Nabi adalah tempatnya, bukan waktunya. Bagi mereka, menyelisihi perintah Rasulullah ๏ทบ adalah kedurhakaan dan pelanggaran berat. Maka merekapun jalan terus meski belum shalat ‘Ashr dan waktunya sudah habis.
Mari perhatikan bahwa bagi mereka yang berhenti, anggota pasukan yang berjalan terus itu berdosa karena tidak shalat ‘Ashr pada waktunya. Pun sebaliknya, bagi yang melanjutkan perjalanan, para prajurit yang berhenti itu berdosa karena menyelisihi perintah Rasulullah ๏ทบ dengan shalat tidak di tempat yang telah beliau tentukan. Betapa rumit kedua fahaman.
Tapi apa yang terjadi ketika seusai tuntasnya tugas mereka menghadap Rasulullah ๏ทบ dan saling melaporkan? Nabi tak menyalahkan siapapun. Sama sekali.
Perbedaan hatta dalam hal sedahsyat ini tak terletak pada ranah "haq" dan "bathil". Yang dibicarakan adalah mana yang "tepat" dan mana yang "lebih tepat menurut kami".
Sebagai penutup, kata sahibul hikayat, satu saat ada jama'ah haji Indonesia bernama Pak Jumadi sedang melaksanakan shalat sunnah. Jama'ah dari Pakistan yang ada di sampingnya memperhatikan dengan sangat serius. Dilihatnya ada beberapa perbedaan tatacara dibanding Madzhab Hanafi yang dianutnya.
Maka seusai shalat dia bertanya, "Enta Syafi'i?"
Jama'ah Indonesia kita menjawab dengan sangat mantap sambil menjabat tangannya dengan erat, "Laa. Ana Jumadi."
Dan sang Pakistani pergi sambil berdecak-decak dan menggelengkan kepala. Mungkin dia pikir, "Madzhab macam mana pula lagi itu Jumadi?"๐
Rabu, 08 Mei 2019
Masya Allah, saksikan filem pendek tentang ABABIL yang melindungi KAABAH dari tentera kuffar ABRAHAH
Subhanallah, siapa sahaja yang membuat filem ni, ia sungguh HEBAT!
Saksikanlah sebuah filem pendek tentang kisah Abrahah dan tentera bergajah yang cuba memusnahkan KAABAH, rumah Allah.
Hatta, gajah dan kuda pun tidak sanggup bersubahat dengan tentera KUFFAR ini. Sama-sama berdoa agar tidak ada di antara kita yg bersubahat dan bersekongkol dgn orang-orang kafir untuk meruntuhkan Islam di negara kita juga.
Sudah cukup Allah hantar sekumpulan burung kecil ‘ABABIL’ sahaja untuk menghancurkan mereka semua.
Allahu Akbar ...
Subhanallah, siapa sahaja yang membuat filem ni, ia sungguh HEBAT!
Saksikanlah sebuah filem pendek tentang kisah Abrahah dan tentera bergajah yang cuba memusnahkan KAABAH, rumah Allah.
Hatta, gajah dan kuda pun tidak sanggup bersubahat dengan tentera KUFFAR ini. Sama-sama berdoa agar tidak ada di antara kita yg bersubahat dan bersekongkol dgn orang-orang kafir untuk meruntuhkan Islam di negara kita juga.
Sudah cukup Allah hantar sekumpulan burung kecil ‘ABABIL’ sahaja untuk menghancurkan mereka semua.
Allahu Akbar ...
Selasa, 07 Mei 2019
Nasihat kubur
1). Aku adalah tempat yg paling gelap di antara yang gelap, maka terangilah aku dengan TAHAJUD.
2). Aku adalah tempat yang paling sempit, maka luaskanlah aku dengan ber SILATURAHIM.
3). Aku adalah tempat yang paling sepi maka ramaikanlah aku dengan perbanyak baca AL-QUR'AN.
4). Aku adalah tempatnya binatang-binatang yang menjijikan maka racunilah ia dengan Amal SEDEKAH.
5). Aku yang menyepitkanmu hingga hancur bilamana tidak Solat,bebaskan sempitan itu dengan SALAT.
6). Aku adalah tempat untuk merendammu dengan cairan yang sangat amat sakit, bebaskan rendaman itu dengan PUASA.
7). Aku adalah tempat Munkar & Nakir bertanya,maka Persiapkanlah jawabanmu dengan Perbanyak mengucapkan Kalimat" LAILAHA ILALLAH"
10 MACAM REZEKI DARI ALLAH SWT
1. Rezeki Yang Telah Dijamin
"Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya."
(QS.Huud:6)
2. Rezeki Karena Usaha
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(QS.An-Najm:39)
3. Rezeki Karena Bersyukur
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu"
(QS.Ibrahim:7)
4. Rezeki Karena Bertakwa
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(QS. At-Thalaq:2)
5. Rezeki Karena Istighfar
"Beristighfarlah kepada TuhanMu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta."
(QS. Nuh: 10-11)
6. Rezeki Karena Menikah
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya."
(QS. an-Nur: 32)
7. Rezeki Karena Anak
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(QS. al-Isra:31)
8. Rezeki Karena Sedekah
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak."
(QS. Al- Baqarah:245)
9. Rezeki karena Silaturahim
"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya, atau ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturrahim." (HR. Muslim: 4638)
10. Rezeki karena Orang yg Lemah
"Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya (do'a) orang-orang yang lemah (diantara) kalian."
(HR. Bukhari: 2681)
FASTING alias PUASA
Jangan kaget ya.. pada jam 12 s/d 18 kita akan merasa lemas.
Bersyukurlah..
Karena berarti akan dimulai satu proses yang sangat bermanfaat untuk tubuh kita.
Proses itu adalah AUTOLISIS.
Autolisis adalah proses pembuangan sel-sel yang mati atau rusak di dalam tubuh kita.
Bayangkan..
Kalau kita lagi gak puasa..
Organ pencernaan kita hampir ga pernah berhenti bekerja.
Setiap kita makan, butuh +-8 jam organ pencernaan kita bekerja.
Jam 7 sarapan pagi, maka jam 15 organ baru selesai bekerja, eh jam 12 kita sudah makan lagi.
Dari jam 12 harusnya selesai jam 20, kita makan lagi jam 19. Belum lagi kalo jam 23nya ngemil/makan mie tektek/nasi goreng.
Astagfirullah..
Kalo tubuh kita bisa ngomong..
mungkin dia akan bilang..
Boss saya resign aja yaa
Nah..
Pas kita puasa..
Sahur jam 4, organ bekerja sampai jam 12.
Jam 12 s/d jam 18, organ kita nganggur gak ada kerjaan. 6 jam lhoo..
Lumayan tuh.
Ibarat ibu-ibu di rumah..
Klo lagi gak ada kerjaan, kan suka beres-beres rumah, rapi-rapi, bersih-bersih, buang barang-barang yang gak kepake.
Nah sama.
organ kita klo lagi gak ada kerjaan, mereka akan melakukan bersih-bersih tubuh, inilah Autolisis.
Keren kan..
Inilah kenapa puasa itu sehat, bahkan in syaa Allah bisa ngobatin banyak penyakit. Maag, diabet, ginjal, bahkan kanker.
Makin banyak puasa.
Makin bersih tubuh kita..
Makin sehat kita.
In syaa Allah
Maka bahagialah kita diperintahkan puasa.
Selamat berpuasa
Semoga makin cinta menjalankan puasa
sehat selalu.
Aamiin
K E A D I L A N
Seorang pria, kurus tampak bingung di ruang tamu tanpa perabotan. Istrinya terus ngomong, kadang histeris ketika di timpalinya. Anaknya terus merengek dalam pelukan ibunya karena sakit.
Pemilik kontrakan sudah memberi ancaman yang ketiga kali. Tidak bayar sewa, keluar ! Pria itu menatap nanar ke sekelilingnya. Dia kehilangan akal untuk menenangkan istrinya. Kehilangan kekuatan bicara tentang sabar ketika dapur sejak kemarin tidak mengepul.
Anak sakit yang tak bisa dibawa ke rumah sakit, rumah kontrakan yang nunggak tiga bulan.
Pria itu pagi buta ke luar rumah. Dalam perjalanan dia melihat ada sepatu baru digeletakkan di depan rumah orang kaya.
Lihat ke kiri ke kanan, memastikan situasi aman. Dia melompat pagar rumah itu, sepatu itu diambilnya.
Malang tak dapat dielak, aksinya diketahui anjing yang menggonggong keras. Sehingga mengundang orang ramai.
Dia berlari dari kejaran orang ramai. Tertangkap, digebuki dan dibawa ke kantor polisi. Dia di hukum untuk satu kesalahan, mencuri.
Dia menjadi pesakitan karena orang kampung menghukumnya dan akhirnya negara mengadilinya.
Kini tinggalah seorang istri dengan anak yang sedang sakit. Lapar, tanpa uang, lalu pemilik kontrakan mengusirnya.
Tak peduli ke mana dia harus pergi, para tentangga tidak ada waktu memikirkan anak balita yang lapar dan ibu yang kurus tanpa penghasilan. Sementara suami di penjara. Semua punya kesibukan dan punya alasan untuk menjelaskan apa yang terjadi terhadap keluarga kecil itu. Secara moral salah ! Secara agama dianggap tidak beriman.
Benarkah?
Pernahkah kita berpikir sedikit becanda, jangan jangan, si ayah yang mencuri sepatu itu karena disuruh Tuhan untuk mengambil haknya yang selama ini dititipkan kepada orang kaya, karena para tetangga yang mampu membutakan mata dan hati kepada si fakir miskin di sekitarnya, namun ketika dia mengambil haknya, orang ramai justru marah, menghukumnya, dan negara mengadilinya berdasarkan KUHAP.
Orang ramai puas. Tapi tidak bagi Tuhan. Kamu boleh hidup dengan retorika agama dan tauhid. Boleh bicara soal aqidah. Boleh bicara soal moral dan etika. Tapi saat kamu abai kepada kaum miskin kamu tak lebih dari pendusta agama di hadapan Tuhan. Kamu sedang bermain main dengan kekuasaan Tuhan.
Kita hanya melihat apa yg ada di depan kepala kita, kita tidak pernah tahu apa penyebab sebenarnya, bahkan yang ahli ibadah, yang sering berdakwah dapat bayaran, ahli sosial, yg seiman denganmu, yang ulama, semuanya buta !
Tahukah bahwa, Tuhan tidak menilai hubungan hebatmu denganNYA. Karena Dia sudah Maha Hebat dan Kuasa, tanpa berharap disanjung dan disembah berlebihan. Tuhan, dengan kasihNYA akan melimpahkan rahmatNya kepada siapapun yang peduli kepada orang miskin, bukan hanya memberi makan tapi membantunya menuju mata air, untuk minum dan membersihkan diri.
Rahmat Allah itu diraih dengan sifat rahman yang kamu miliki, bukan dengan ber-dzikir siang malam dengan berbusa lidah saja. Pahami itu !
Bahwa tidak dikatakan beriman, bila kamu tidur sementara tetanggamu lapar. Andaikan kamu mati ketika tidur maka kamu mati dalam keadaan tak beriman. Paham !
Mari berubah, beragama dengan mengutamakan akhlak berbagi cinta dan kasih sayang. Selebihnya biarkan kekuasaan Tuhan berkerja, dan itu akan sebaik baiknya keadilan.
๐ค๐ค
Sabtu, 20 April 2019
Kekuatan Pikiran
Bisa dijadikan pelajaran
Allahu Akbar...gak jenuh bacanya...
Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.
“Apa yang dirasakan, Mas?”
Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.
“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”
“Tapi buat puasa kuat ya?”
“Kuat, Pak.”
“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”
Aku terbengong, menunggu penjelasan.
“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”
“Maksudnya, Pak?”
“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”
“Njih, Pak.”
“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”
“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.
“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”
Aku melongo lagi.
“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.
Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.
“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.
“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”
“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”
“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.
“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”
Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.
“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu salah kaprah.”
“Maksudnya?”
“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”
“Haah?”
“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”
“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”
“Ya ‘kan bisa di rumah.”
“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”
“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”
Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.
“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.
Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”
“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.
“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.
Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’
Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.
Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”
“Waah.. Lalu, Pak?”
“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”
Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.
“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.
Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”
“Orangnya masih hidup, Pak?”
“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”
“Wah, wah, wah..”
“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”
“Lhoh, njenengan pernah Pak?”
“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.
Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.
Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”
Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.
Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!
“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.
Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.
Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.
Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”
Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.
“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.
Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.
Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.
Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”
Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.
“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.
Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”
“Hasilnya, Pak?”
“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.
Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”
“Sembuh, Pak?”
“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.
Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.
Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”
Takjub, tentu saja.
Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.
Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.
Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.
Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.
Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.
Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.
Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.
Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.
Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.
Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.
Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.
Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!
Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.
Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.
Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.
“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.
Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.
Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”
Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.
Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.
Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.
Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.
Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.
Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.
“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,
“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”
Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.
“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.
Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”
Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.
“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.
Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”
Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.
“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”
“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.
Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”
Lagi-lagi,aku manggut-manggut.
Tak asing dengan teori ini.
“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.
Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.
Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.
Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.
Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”
Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.
“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.
Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.
Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”
Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.
Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.
Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.
Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.
“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.
Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.
Terima kasih Pak Paulus.
Kadipiro Yogyakarta, 2016
Dari wordpress GUBUGREOT
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D
Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)copas,com
Allahu Akbar...gak jenuh bacanya...
Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.
“Apa yang dirasakan, Mas?”
Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.
“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”
“Tapi buat puasa kuat ya?”
“Kuat, Pak.”
“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”
Aku terbengong, menunggu penjelasan.
“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”
“Maksudnya, Pak?”
“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”
“Njih, Pak.”
“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”
“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.
“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”
Aku melongo lagi.
“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.
Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.
“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.
“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”
“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”
“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.
“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”
Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.
“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”
“Iya, Pak.”
“Itu salah kaprah.”
“Maksudnya?”
“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”
“Haah?”
“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”
“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”
“Ya ‘kan bisa di rumah.”
“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”
“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”
Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.
“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.
Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”
“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.
“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.
Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’
Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.
Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”
“Waah.. Lalu, Pak?”
“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”
Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.
“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.
Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”
“Orangnya masih hidup, Pak?”
“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”
“Wah, wah, wah..”
“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”
“Lhoh, njenengan pernah Pak?”
“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.
Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.
Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”
Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.
Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!
“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.
Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.
Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.
Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”
Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.
“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.
Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.
Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.
Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”
Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.
“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.
Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”
“Hasilnya, Pak?”
“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.
Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”
“Sembuh, Pak?”
“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.
Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.
Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”
Takjub, tentu saja.
Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.
Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.
Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.
Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.
Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.
Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.
Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.
Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.
Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.
Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.
Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.
Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!
Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.
Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.
Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.
“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.
Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.
Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”
Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.
Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.
Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.
Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.
Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.
Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.
“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,
“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”
Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.
“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.
Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”
Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.
“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.
Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”
Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.
“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”
“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.
Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”
Lagi-lagi,aku manggut-manggut.
Tak asing dengan teori ini.
“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.
Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.
Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.
Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.
Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”
Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.
“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.
Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.
Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”
Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.
Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.
Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.
Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.
“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.
Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.
Terima kasih Pak Paulus.
Kadipiro Yogyakarta, 2016
Dari wordpress GUBUGREOT
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D
Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)copas,com
Langganan:
Postingan (Atom)

